Rhapsody on A Theme of Me...


Blog For Free!


Archives
Home
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


Moved to http://tazkia.tblog.com
Perempuan dan Perang
07.27.04 (12:39 am)   [edit]
Btw, akhirnya alhamdulillah, tugas Gender selese… fiuuuh… :x . Btw, sekalian buat loe2 pada biar tau, ini adalah salah satu ‘cuplikan’ dari tugas panjang mata kuliah yang dianggap ‘seksis’ itu…(gara2 si ibu sukaaa banget ngomongin masalah psikoanalisa Freud, phallocentrism, dan perbandingan fisik antara co-ce)

Perempuan dan Perang, Sebuah Analisa dari Trilogi LOTR

Salah satu hal yang hendak saya angkat dari film ini ialah adanya stereotip perempuan dikaitkan dengan perang dan power. Dapat dilihat bahwa di dalam kebudayaan Middle Earth, nampaknya seperti kebudayaan kita pula, perempuan dianggap ‘lebih lemah’ dibandingkan laki-laki.
Para prajurit perang adalah laki-laki, dan perempuan adalah sosok pemberi semangat bagi mereka. Perempuan tidak memiliki suara untuk menentukan kebijakan. Sementara para decision maker ialah sosok laki-laki dengan kecakapan dan kharisma seperti yang terlihat pada Majelis Rohan serta Dewan Elrond di Rivendell.

Tokoh Eowyn merupakan sosok wanita yang cantik, anggun dengan rambut pirangnya yang panjang dan gaunnya yang menjulur hingga ke mata kaki. Namun di balik keanggunan itu ia memiliki jiwa ‘maskulinisme’ pula, yaitu jiwa ksatrianya. Ia mahir bermain pedang dan berkuda. Ini yang membuatnya berbeda dengan perempuan Rohan lainnya. Selanjutnya, di trikuel The Lord of The Rings: The Return of The Kings (ROTK) perempuan ini akan benar-benar terjun ke medan perang walaupun harus bersembunyi di balik pakaian perang dan topeng besi. Ia menuntut kesetaraan gender dan berupaya menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan yang juga memiliki hak untuk mempertahankan diri dan negerinya.



Sebelum perang pecah, Theoden lantas menggiring para perempuan dan anak-anak ke sebuah gua di sebuah gunung dengan pengamanan para prajuritnya. Theoden memerintahkan Eowyn, keponakannya perempuannya, untuk menggiring para perempuan dan anak-anak ke gua, sementara mentitahkan kepada para laki-laki untuk menghadang musuh yang tengah mencegat mereka di perjalanan. Namun Eowyn memohon supaya dirinya diikutkan dalam barisan laki-laki berkuda untuk melawan musuh, namun sang paman tetap teguh pada pendiriannya bahwa sepantasnya Eowyn pergi ke gua perlindungan bersama perempuan-perempuan lain.
Perempuan bukanlah prajurit perang, karena kaum laki-lakilah yang seyogyanya berperang. Di sini terdapat sebuah konsep yang dapat kita temukan, yaitu perempuan sebagai objek, bukan subjek. Tindakan Theoden merupakan cerminan bahwa di dalam kulturnya, perempuan identik sebagai ‘sesuatu hal’ yang harus dilindungi karena ia dianggap berharga sekaligus lemah dan tidak dapat melindungi dirinya seutuhnya.

Hal yang menarik bagi saya, ketika menyaksikan TTT dan mengkaitkannya dengan kenyataan yang ada, dapat ditarik garis merah, yaitu menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Trilogi LOTR yang dibuat pada masa tahun 50-an ini pun lantas menjadi sebuah deskripsi lugas bagi kondisi politik internasional yang anarkis pada saat epik tersebut dibuat (pasca Perang Dunia II).



Dapat ditegaskan bahwa perempuan hanya dianggap sebagai ‘benda di balik lemari besi’ saja, tidak terpikirkan bahwa mereka adalah ada di balik gelombang peperangan dan dinamika politik saat itu. Sektor domestik merupakan dunia bagi perempuan, sementara tanpa disadari hal ini adalah salah satu pengekangan bagi mereka untuk turut memperjuangkan hak dan kepentingannya, seperti Eowyn.

Budaya Patriarki

Di dalam budaya patriarki yang begitu kuat, laki-laki di Kerajaan Rohan memiliki kewajiban dan wewenang untuk menjadi konseptor strategi perang, mengurusi masalah artileri, serta menjadi tentara perang. Sedangkan perempuan haruslah mengurusi masalah-masalah ‘domestik’, seperti memasak, mengurusi anak-anak, membenahi rumah, melepas, serta menyambut para tentara perang. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan oleh Jean Bethke Elshtain dalam bukunnya Women and War (1987): lelaki barat sepenuhnya menggagas (mastermind), mendirikan (conduct), sekaligus mengatur siasat (narrate) perang, namun wanita adalah makhluk yang terlalu cantik (too beautiful), lembut (soft), dan keibuan (motherly) yang tidak selayaknya terlibat perang.

Bila sejak awal institusi-institusi sosial dan profesi didefinisikan atas dasar kepentingan dan nilai-nilai laki-laki maka dalam perkembangannya yang terjadi lebih suatu proses diskualifikasi perempuan. Situasi biologis, psikologis, kompetensi, dari perempuan dianggap tidak kondusif atau tidak sesuai dengan tuntutan dan kualifikasi yang disyaratkan. Seperti yang dijelaskan oleh Dorothy Dinnerstein (1998), perempuan dipandang sebagai it sedangkan laki-laki sebagai I . Fenomena perempuan sebagai ‘objek’, bukan ‘subjek’ ini di dalam film lantas secara tidak langsung digugat oleh Eowyn.
Ketika perempuan masuk dalam dinamika wacana laki-laki, dia tunduk dalam kategori-kategori yang telah ditetapkannya. Bila perempuan menerapkan skema pemikiran yang merupakan hasil dominasi, dia sudah kalah sebelum bertanding melawan laki-laki. Oleh karena itu Eowyn lebih memilih bungkam ketika pamannya melarangnya untuk ikut dalam barisan tentara Rohan. Guratan kekecewaan terlukis dari wajah perempuan itu. Ketika pemikiran dan persepsi perempuan terbentuk sesuai dengan struktur hubungan dominasi, upaya untuk mengetahui berarti sama saja dengan sebuah pengakuan dan ketertundukan, karena perempuan harus menggunakan kosa kata dan kategori yang dibangun oleh laki-laki.

Seperti yang kita ketahui, perang yang bersifat realis ini adalah sebuah idiologi malestream yang begitu kuat. Di dalam TTT, andaikata kaum laki-laki membiarkan perempuan ikut berperang, mungkin akan sangat bermasalah. Perempuan ikut berperang adalah sebuah ‘keganjilan’. Tidak ada yang menjaga anak-anak. Tidak ada yang menyediakan pangan. Tidak ada yang mendoakan kemenangan. Tidak ada yang akan menyambut kepulangan mereka kelak. Yang ada hanyalah darah perempuan yang tertumpah secara sia-sia, dan bahkan bisa jadi kalah perang karena alih-alih kaum laki-laki akan sibuk mempertaruhkan nyawanya demi melindungi perempuan-perempuan di medan perang dibanding menjaga keselamatan dirinya.

Perempuan itu “Ada”

Secara empiris keilmuan, Jean Paul Sartre (1905-1980), seorang feminis eksistensialis, mengungkapkan fenomena tersebut. Dalam Being and Nothingness, emansipasi dan peran serta perempuan merupakan suatu penekanan yang dijelaskan sebagai being (ada), yang terdiri dari:
1. Being in itse : ada pada dirinya, keberadaan yang tidak berkesadaran, ada begitu saja, keberadaan yang utuh.
2. Being for itself : ada untuk dirinya, keberadaan yang berkesadaran, kesadaran yang bercelah sehingga ada kritisisme yang bisa menidakkan. Ada pada manusia yang mempunyai akal dan bisa melakukannya, karena kritisisme itu maka manusia dihadapi pilihan akibat dari kutukan kebebasannya.
2. Being for others : ada untuk orang lain, keberadaan bersama orang lain, hubungan subjek-subjek yang penuh dengan konflik.

Feminis yang merupakan murid, teman dekat dan juga partner kerja Sartre adalah Simone de Beauvoir dengan buku terkenalnya The Second Sex (1973). De Beauvoir menjelaskan keberadaan perempuan adalah sebagai objek dalam hubungan dengan subjek. Di dunia ini tidak ada perempuan yang bebas mengekspresikan dirinya tanpa tergantung pada subjek yaitu laki-laki. Perempuan digambarkan seperti manusia yang tidak punya kesadaran, yang tergantung pada manusia lain (laki-laki), tidak punya kebebasan sehingga disebut sebagai the other.

Oleh karena itu, dalam sebuah dialog dengan Aragorn, Eowyn mengatakan “I fear a cage”. Ia mengungkapkan secara implisit bahwa hal yang paling menyiksanya ialah berada di dalam sangkar emas (Kerajaan Rohan) tanpa bisa memperjuangkan sesuatu demi negerinya. Di sini emansipasi perempuan mulai disingkap, bahwasanya seperti kaum laki-laki, perempuan pun mau, dan mampu memberikan kontribusi bagi negerinya.
Serupa dengan tindakan Eowyn untuk menunjukkan kemampuannya berperang, keberadaan perempuan dapat dicapai dengan transendensi sebagai berikut:

1. Dengan bekerja
Meskipun berarti berperan ganda, tetapi perempuan akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki yang bekerja di sektor publik. Dan kesempatan ini yang menjadi nilai tambah jika perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga.


2. Menjadi intelektual
Aktivitas intelektual akan membawa perubahan pada perempuan. Perempuan akan menjadi subjek dan bukan objek. Keikutsertaan Eowyn di dalam Battle of The Ring diharapkannya dapat memberikan sebuah kontribusi bagi negerinya sekaligus ajang untuk membuktikan eksistensinya sebagai perempuan yang tegar, tangguh, dan memiliki derajat sama dengan kaum laki-laki di negerinya sehingga ia tidak lagi dipandang sebelah mata.

3. Dengan mentransformasikan nilai sosial dalam masyarakat
Seperti Sartre, de Beauvoir melupakan harapan untuk mengakhiri peran sebagai subjek-objek, self-other di dalam hubungan manusia secara umum dan hubungan laki-laki-perempuan secara khusus. Di film ini, salah satu kunci membebaskan perempuan dari ketergantungan pada laki-laki adalah dengan kekuatan fisik/militer.

4. Menolak untuk menginternalisasikan status other-nya dan mengidentifikasikan diri sendiri melalui pandangan kelompok dominan di masyarakat. Karena dengan menerima status other maka perempuan menerima menjadi objek. Dikaitkan dengan film ini, Eowyn tidak menyukai apabila ia dipandang oleh pamannya sebagai ‘makhluk berbeda’ hanya karena ia perempuan sehingga tidak boleh ikut berperang.

Kesetaraan gender yang diartikan sebagai tuntutan akan pemenuhan hak-hak yang sama justru akan menjebak perempuan dalam logika wacana lelaki. Terjebak karena perbendaharaan kata dan kategori yang dipakai merupakan bagian dari dunia laki-laki. Hak bagi perempuan bukan merupakan anugerah, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Perjuangan mengandalkan agresivitas sebagai suatu bentuk superioritas fisik. Hak adalah sisi lain dari kewajiban, maka pemenuhan hak menuntut syarat-syarat. Syarat-syarat ini ditentukan oleh standar laki-laki. Kesadaran akan hak-hak yang setara dengan laki-laki bisa menjebak perempuan pada pengakuan atas standar yang ditentukan oleh laki-laki.

Maka, apabila dimasukkan ke dalam salah satu dialog di dalam LOTR, ungkapan-ungkapan seperti siapakah yang harus maju berperang kalau negara diserang, siapa bertanggungjawab bila tidak tersedia masakan di atas meja, yang bertanggungjawab menjaga rumah dan lahan pertanian, dan siapakah yang wajib melakukan pengamanan benteng memiliki jawaban pasti: antara perempuan dan laki-laki.

Kalau perempuan menuntut kesetaraan gender, mereka harus mulai dengan membangun wacana baru yang mampu membongkar institusi-institusi sosial yang dibangun oleh lelaki. Pembongkaran itu perlu karena ketika mendefinisikan peran-peran dalam institusi-institusi sosial itu kriteria yang dipakai disesuaikan dengan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan laki-laki.

Meskipun dikatakan bahwa suatu profesi atau institusi sosial netral dari perspektif gender, tetapi dalam kenyataan lelaki mempunyai kesempatan lebih daripada perempuan. Gerbang perang terbuka bagi perempuan, tetapi pengambil keputusan utama adalah lelaki. Eowyn boleh mengungkapkan bahwa dirinya begitu rindu untuk berjuang di medan perang, tapi pengambil keputusan di sini ialah Raja Theoden dengan orang-orang kepercayaannya yang kesemuanya juga adalah laki-laki yang memiliki posisi absolut. Dan ketika adegan di mana Eowyn berhasil memenggal kepala Nazgul serta memusnahkan Witchking, pun penonton bersorak riuh bahwasanya telah muncul seorang pahlawan wanita. Jiwa kekesatriaan Eowyn ini pun akhirnya mendapat simpati dan pengakuan dari pamannya sebelum dirinya akhirnya menyambut ajal.





Well, seharusnya hari ini anak2 yang pada ngumpulin nih tugas dapet ujian lisan. Tapi, berhubung si ibu kudu balik ke Jkt, ya, ujiannya ditunda sampe minggu depan...
Btw, dalam ngerjain nih tugas, gue sedikit 'bunglon'. Maksudnya, ya... rada2 diplomasi n' spik2 dikit gitu, padahal gue sendiri samasekali nggak pernah menganggap bermasalah sama makhluk yang bernama 'laki-laki', karena Islam sudah menempatkan perempuan dan laki-laki begitu adil (sampe2 ada surat An-Nisaa segala :wink: ).
Btw, buat yang pada nungguin pic2 mutakhirnya Legolas, alright.... I give u this one...
Banyak2 istighfar yaaaa... :D



 
Syair Tukang Baso...
07.24.04 (2:24 am)   [edit]
Sebuah pengajian yang amat khusuk di sebuah mesjid
kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh
suara dari tukang baso yang membunyikan piring dengan
sendoknya.

Pak ustad sedang menerangkan makna 'khauf', tapi
bunyi ting ting ting yang berulang-ulang itu seungguh
menggangu konsentrasi anak2 muda calon ulil albab yg
pikirannya sedang bekerja keras.

" apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di
mesjid ini untuk berpesta bakso!" gerutu seseorang.
"Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!" tambah
lainnya, dan disambung_ "ya,ya,betul!"
"Jangan marah ikhwan,"seseorang berusaha meredakan
keadaan,"Ia hanya sekedar mencari makan...."
"Dia tak punya imajinasi terhadap apa yang kita
lakukan!" potong seorang yg lain lagi.
"Jangan2 ia sengaja berbuat begitu! "Jngan-jangan
dia mainan-NAshara!" sebuah suara keras.

TApi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu,
terdengar suara pak ustad juga mengeras: "Khauf, rasa
takut ada beribu2 maknanya. Manusia belum mancapai
khauf ilallah selama ia masih takut terhadap hal2
kecil dlm hidupnya. Allah itu maha besar, maka barang
siapa takut kepada-NYa, yang lain2 menjadi kecil
adanya."

"Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap
kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme
politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang baso.
Beranikah anda semua, kaum terpelajar yang tinggi
derajatnya dimata masyarakat, beranikah anda menjadi
tuknag bakso?? Anda tidak takut menjadi
sarjana,memperoleh pekerjaan dengan gaji besar,
memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang
bergenggsi: Tapi tidak takutkan anda untuk menjadi
tukang bakso? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada
anda tidak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali
menjadi tukang bakso? cobalah wawancara hati anda
sekarang ini, Takutkan atau Tidak?

"Ingatlah bahwa tidak seorang tukang bakso pun
pernah takut menjadi tukng bakso, apakah anda merasa
lebih berani dibanding tukang bakso? karena pasti para
tukang bakso memiliki keberanian juga untuk mrnjadi
sarjana dan orang besar seperti anda semua."

Suara menjadi senyap. suara ting ting ting dari
jalan disisi halaman masjid menusuk nusuk hati para
peserta pengajian.

"KIta memerlukan baca istighfar lebih dari 1000x
dalam sehari," pak ustad melanjutkan "Karena kita
masih tergolong orang2 yang ditawan oleh rasa takut
terhadap apa yang kita anggap derajat rendah, takut
tidak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut
miskin, takut tidak mempunyai jabatan, takut tidak
bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut
dipecat, takut tidak naik pangkat......masya allah,
sungguh kita termasuk orang2 yang belum sanggup
menomorsatukan Allah!'
Astagfirullah......


Ps: nih tulisan disadur dari Emha Ainun Najib. Buat Kak Rudi, makasih ya atas artikel ini... Jangan bosen2 entri ke email ya...
 
smile on your face
07.21.04 (5:16 am)   [edit]


"...
Sometimes is never quite enough
If you're flawless, then you'll win my love
Don't forget to win first place
Don't forget to keep that smile on your face

Be a good boy
Try a little harder
You've got to measure up
And make me prouder
..."
(Alanis Morisette, "Perfect")



dulu dan sekarang... oh, dia memang begitu berubah...

well, hope u'll always stay the same...

nice 2 know u further ...




 
The Fellowship of The Ring...
07.21.04 (4:48 am)   [edit]
 
First pic goes to...
07.21.04 (4:19 am)   [edit]
"One ring to rule them all, one ring to find them... One ring to bring them all, and in the darkness bind them..."



well, ini pic perdana di web ini...
 
Kunci Zuhud
07.20.04 (5:07 am)   [edit]
KUNCI ZUHUD

Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang lain,

karenanya hatiku tenang

Aku tahu amalku tidak mungkin dilakukan orang lain,

maka aku sibukkan diriku untuk beramal

Aku tahu Allah selalu melihatku,

karenanya aku malu bila Allah mendapatiku

melakukan maksiat

Aku tahu kematianku menantiku,

maka aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa

dengan Rabbku

(Hasan al Bashri, dikutip dari majalah Ishlah)

 
Dementor Agung
07.20.04 (3:27 am)   [edit]
Hari ini udah mulai kul SP. Pagi2 gue dateng ke kampus, dan anak2 ternyata udah pada masuk kelas. Yup, hari ini gue kuliah Hukum Internasional I, sama Mr. HasDik ‘sang dementor agung’ lagi… Hehehehe, taon lalu kan gue dapet D :roll: !




dia menyerap hawa2 kebahagiaan...

Hmmm, materinya ga jauh dari hukum ruang udara & angkasa. Menurut gue, ini sih seharusnya masuk mata kuliah HuKin 2, soalnya pas ujian gue ngapal banget! Alhamdulillah, dapet B…
(Jadi misteri besar! HuKin I yang dosennya ngasih catetan mulu, tapi gue dapet D. Tapi, HuKin II yang kuliahnya nyantai abis&nitip absen gue dapet B… Berbangga, hehehe… :lol: ).

Gue duduk di deret kiri, paling depan. Saking depannya, cuma gue sendiri yang di depan! Di sebelah gue, deret kanan, ada Intan. Belakang gue Deasy. Dan saat itu Ila belom dateng (dia dateng 30menit kemudian. Dan Mr. HasDik berucap “Udah, nggak usah!”. Mengusir maksudnya… :roll: ).

Hari itu doi kayanya lagi semangat ngajar, sampe2 ngeluncurin jokes yang bagi gue garing (gue sama Intan saling berpandangan dan menunjukkan mimik yang tidak mengenakkan :roll: ). Doi juga sempet terkekeh beberapa kali, dan lagi2 it made him so weird… nggak biasanya dia ketawa di depan anak2.
Pas gue baru masuk kelas, gue mengaku kalah taruhan sama Ila.
Tebakan Ila yang kemaren bener kalo HasDik bakalan pake baju pink hari ini (gue taruhannya dia pake baju putih :wink: ). Trus, gue ngebaca sebuah nama yang tertulis di white board di antara coretan2 lain, “JG Starke. Oh no… pasti (lagi2) dia yang nulis ini (soalnya si bapak suka ngebahas konsep hukum Starke. Curiga ngidolain dia… :roll: ).

Hukum. Gue ngedengernya tuh ‘tinggi’ banget. OK lah dia ngejelasin tentang hukum internasional. Dia begitu fasih n’ hafal di luar kepala mulai dari konvensi, perjanjian, deklarasi, traktat, protokol, kasus2 pelanggaran, ( sampe segala macem istilah latin yang bunyinya panjang banget tadi…), dsb. I agree that he is a dilligent one (with hiiiiigh pride 8) ). Tapi kok ada yang kurang yah…

Ternyata, selama kuliah… tidak pernah terdengar dzikir yang terucap, entah itu ‘alhamdulillah’, ‘astaghfirullah’, ‘insyaallah’, ‘subhanallah’, dsb…
Gue bukannya sok menilai ato men-judge ‘ih, kuliah apaan nih?!’. Keluhan serupa juga ditemui sama anak2 yang laen, kaya Ila&Intan. Jadi, kita pada ngerasa janggal sendiri, kenapa hukum, hukum, dan hukum yang diajarinnya selalu bentukan barat?

Dia tidak pernah menyentil sedikitpun mengenai hukum Islam.
Padahal, sejarah mengatakan kalo hukum (tertulis) pertama kan dari Islam, yaitu Konstitusi Madinah (makasih yah Pak Yan atas diktatnya…).
Komparasi antara keduanya juga nggak ada samasekali. Padahal kan nggak ada salahnya, lagian dua2nya juga penting untuk dikaji secara ilmiah…
Kalo dia berpendapat ‘ah, itu kan masalah dogma…’, oh, dengan besar hati gue akan menjelaskan padanya ‘Pak, islam bukanlah dogma… tapi ia ‘rahmatan lil alamin’. Bukan buatan manusia, tapi langsung turun dari Allah… Sehingga tidak akan ada kecacatan di dalamnya sebab ia syaamil wa mutakamil’. Jadi inget Ila “Hoooolistik…”
Netralisasi perkuliahan? Yah, mungkin itu memang karakternya&kemauannya. Dia itu memang bener2 ‘value free’ berarti… Wallahu’alam… Kita cuma bisa berdoa semoga Allah senantiasa membukakan pintu hatinya dan menaunginya dengan hidayah. Amiin…

Well, tapi ada hal yang gue sukain dari perkuliahannya hari ini. Hari ini dia ngebahas tentang NATO yang jadi jaksa bagi perang Balkan. Dia bercerita bagaimana status Slobodan Milosevic yang sampe saat ini masih jadi penjahat buron yang diburu oleh NATO. Pas topiknya itu, woooow… gue tersenyum bahagia ke Intan, hehehe, soalnya jadi keinget novel gue (terima kasih, terima kasih…Thank you :wink: ).
Yeah!
Gue jadi excited banget! :D :D
Ah, coba saat itu ada Ila…

Pak HasDik cerita kalo Milosevic menghadapi begitu banyak tuntutan atas pelanggaran kemanusiaan & pelanggaran hukum perang yang udah dilakuinnya. Oleh karena pelanggaran2 itu, Milosevic, Radovan Karadjic, n’ jenderal2 Serbia dituntut di Mahkamah Agung di Den Haag… Dia juga nyeritain gimana pembantaian di Srbrenica (Bosnia Timur) oleh pasukan Serbia, di mana mereka menyerang dan membombardir penduduk desa yang tanpa dosa. Yang gue baca di Eramuslim
(waktu gue masih riset novel hehehe), tragedi itu newasin 225.000 nyawa! Masya Allah…
Tapi sampe sekarang, kasus itu belum tuntas, karena Milosevic cs. entah berada di mana…

Oh iya, tadi gue SMS bokap suruh sowan ke weblog ini. Dan beberapa jam kemudian doi SMS, yah… pada intinya ngasih pujian (segala puji hanya milik Allah), hehehe, sama ngedoain semoga gue bisa jadi diplomat seperti Mu’adz bin Jabal… Amin…

Hari ini Intan bawa Harry Potter 5 punyanya Deasy. Edun, tebel banget! Ilfil ngeliatnya…
Well, gue baca di sinopsis cover belakang, kalo Dumbledore hendak mengatakan sebuah rahasia besar yang telah disimpannya selama lima tahun ke Harry.
What is it?
Tanya mereka aja…
Kalo ada yang mo ngasitau sekarang juga boleh :wink:
 
Antara Pemimpin dan Ibadah
07.18.04 (5:28 am)   [edit]
Antara Pemimpin dan Ibadah

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih cenderung kepada kekafiran daripada keimanan, dan siapa di antara kamu menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. At Taubah:23)

Pada salah satu kesempatan mengajar di salah satu majelis ilmu, Said bin Musayyaf betanya kepada murid-muridnya dengan gurauan, “Kalau Allah SWT memberitahu bahwa di antara sekian banyak doa yang aku panjatkan sepanjang hidupku tidak ada yang dikabulkan kecuali hanya salah satu doa di satu kesempatan, menurut kalian kira-kira doa apa yang akan aku minta dalam doa yang pasti dijabah Allah tersebut?”

Salah seorang muridnya menyarankah agar ulama hadits terkemuka ini meminta kepada Allah memberikan karunia dan kebahagiaan di dunia. Murid lain berpendapat agar sang guru meminta pengampunan Allah supaya mendapatkan keselamatan di akhirat. Yang lainnya pun menjawab dengan jawaban yang hampir sama.

“Terimakasih,” ujar ulama dari kalangan tabi’in (generasi setelah sahabat) ini. “Bukan itu yang kuminta,” katanya kepada murid yang mulai penasaran.

“Tapi ya Allah jadikanlah untuk kami pemimpin yang adil dan kami bisa beribadah dan menjalankan seluruh perintah-Mu dengan kepemimpinannya.”

Mengamati dialog tersebut, mungkin orang akan bertanya apa urusannya seorang ulama bicara soal politik? Sempat-sempatnya ia membualt pengandaian doa padahal isi doanya di luar kewajaran, tak seperti dugaan para muridnya. Mengapa beliau tidak langsung meminta surga, dan dijauhkan dari neraka? Apakah pemimpin yang adil dapat membuatnya masuk surga?

Apabila kita merenungkan isi doa Said tersebut, kita akan mengerti betapa eratnya hubungan antara ibadah dengan kepemimpinan. Capaian-capaian yang berupa keselamatan akhirat dan kebahagiaan dunia yang diajukan para murid itu bukan berarti dianggap tidak pentingoleh sang alim ini. Itu sangat penting, bahkan cita-cita tertinggi seorang mukmin yang mengerti.

Namun capaian itu semua – dalam keyakinan beliau – akan dapat berhasil diraih apabila seorang mukmin dapat melaksanakan misi utama di bumi ini, yaitu ibadah (QS Az Zariyat: 53)

Firman ini menegaskan, totalitas hidup seorang mukmin adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Ini mencakup private life serta social life. Sementara sistem yang berlaku dari mekanisme yang digunakan dalam kehidupan satu masyarkat akan sangat berkaitan dengan pemimpinnya, karena pimpinan akan memiliki kekuasaan dan kekuasaan berkaitan erat dengan pengaturan kehidupan.

Pemimpin yang tidak beriman dan tidak mngakui bahwa hidup ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah atau bahkan pemimpin dari kalangan musuh-musuh Allah, ini akan membuat sistem dan mekanisme kehidupan masyarakatnya menjadi ingkar kepada Allah. Rakyat akan sulit menjalankan misi hidup.

Bila pengaturan itu dikendalikan kekuasaaan yang dijalankan oleh pemimpin dari kalangan pembela Allah dan tunduk kepada-Nya, insya Allah cita-cita itu akan bisa diraih. Karena pemimpin itu akan menjalankan kekuasaannya dengan semangat ketaatan dang pengabdian kepada Allah SWT.

Karena itu, pada ayat 23 dari surat At-Taubah itu, Allah SWT mengingatkan bahwa kita sama sekali tidak boleh memilih pemimpin yang memiliki kecenderungan kufur dan sesat.

Pertanyaan muncul, apakah parameter pengukur keimanan seorang pemimpin yang akan kita pilih? Allah SWT menegaskan “Sesuangguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tunduk kepada Allah SWT (dalam kehidupannya)” (QS Al Maidah: 55)

Parameter keimanan pemimpin diukur dari tiga hal penting. Pertama, mendirikan shalat, tentunya tidak sekedar melaksanakan shalat saja. Pemimpin yang kita pilih ialah yang paling baik dalam mendirikan shalat. In ibisa dilihat dari dua indikasi besar, yaitu seberapa besar komitmennya terhadap shalat. Selain itu, sebebrapa besar pengaruh shalat itu pada dirinya, baik secara pribadi maupun sosial. Target-target shalat harus tercapai dalam kehidupan. “Sesungguhnya shalat itu dapat menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar QS Al Ankabut: 45). Pemimpin yang kita pilih adalah yang paling jauh dari perbuatan munkar dan keji, serta berakhlak baik.

Kedua, menunaikan zakat. Kita harus memilih pemimpin yang meyakini bahwa hartanya sesungguhnya milik Allah, karena seluruh nikmat dari Allah. Karena itu ia merasa berkewajiban untuk melaksanakan seluruh perintah Allah, di antaranya zakat. Pemimpin ini tidak akan mungkin melakukan korupsi sekecil apapun, apalagi besar. Karena ia tahu, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya hanya harta halal yang diperoleh dengan cara yang baik. Ia bahkan tidak akan pernah rela hartanya dicampuri oleh harta yang haram.

Ketiga, ruku’ (tunduk dan patuh pada Allah). Pemimpin yang boleh kita pilih adalah orang yang menundukkan totalitas hidupnya kepada Allah. Cara berpikir, merasa, dan berbuat harus sesuai dengan ketentuan Allah.

Kalau kita sepakat bahwa ini untuk meraih surga dan dijauhkan dari neraka, jadikanlah hidup kita sebagai ibadah kepada Allah. Untuk itu, kita tidak punya pilihan, kecuali harus memilih pemimpin yang paling commited dan mengerti ibadah kepada Allah. Wallahu’alam…
 
minggu
07.18.04 (5:03 am)   [edit]
Hari Minggu ini gue di kosan aja. Cucian gue udah numpuk hampir 3 minggu (parah…). Gue jadi bingung sendiri, mo mulai nyuci dari mana, hehehe… Seharusnya dateng ke acara Raker KMPM di Sumedang. SMS undangannya beru dateng tadi malem, dan gue rada shock juga, soalnya tiba2 gitu sih. Si Jo ngirimin tuh SMS, katanya kalo mau dateng Raker, dia minta bareng, janjian jam 8 di kosan gue. Wah, baca SMS gituan, gue terkejut dong, acara apaan neh… Kenapa gue baru dikasitau. Tau gini, gue bakal nyusun skedul!
Well, akhirnya gue ga dateng gini, karena gue mau ngerjain banyak hal hari ini (banyak kah?).
Tadi Mbak Yuni juga dateng ke kosan. Doi butuh silabus n’ kurikulum untuk materi pelajaran anak2 SD. Well, gue kasih aja tuh setumpuk berkas bimbel yang kemaren. Tapi, yang dicarinya kaga ada… Yang ada cuma soal2 sama daftar absen. Sorry…
Tadi pagi juga rencananya gue mo ke PaUn, nyari majalah komputer bekas. Tapi, kayanya gue masih terlalu cape (cape? Emangnya abis kerja romusha apaan semalem?!), jadi gue milih ngelanjutin bobo, hehehe :D .

Yesterday
Sabtu kemaren gue di kosan aja. Ila dateng ke kosan, ngambil jam tangan ‘terkutuk’ itu. Kita ngobrol-ngobrol n’ ngegosip seperti biasa, hehehe… Abis itu nonton Two Towers, lumayan, bikin kita merinding&jerit2 selama dua jam-an. Ya, gimana enggak, Legolas tuh tampangnya innocent banget, hihihi… “Legolas (Bloom) cakepan pirang yah!” kata si Ila 8) . Dia belom nonton yang Fellowship, kapan yah ngajakin dia nonton di kamar lagi…
Abis nonton, gue ama Ila makan di BSS sambil ngobrol n’ ngegosip, hehehe… Di sana ketemu Liza, nice to see her…Oh iya, jadi pengen makan di Kedai Steak! Hmmm, bareng siapa yah… Gue maunya sih malem2 aja. Sama anak kosan kali yah… Oh iya, Fellowship bajakan gue kan masih dipinjem Teh Rika. Hmmm, kapan ya gue tagih lagi (untuk yang kedua kalinya, hehehe)
Kemaren gue juga ngedit chapter 1-3 TCR, hmmm, cape juga…:?

Rencanannya pekan ini mo ke BEC, cuci mata. Gue mo beli apa yah di sono…
Oh iya, gue abis buka2 buku tahunan SMA. Aduuuh, gue kangen sama temen2 lama…
Pas baca, gue cengengesan aja sama kesan&pesan anak2 yang pada gokil ituh. Gue juga ketawa sendiri ngebaca profil kelas gue, 3 IPA 1, yang kebetulan penulisnya gue sendiri :lol: . Parah…
Kapan yah reunian akbar…
Btw, anak2 48 pada bikin milis ga seeeh?
 
The Gifts of the Beloved
07.18.04 (4:25 am)   [edit]


Where will you find one more liberal than God?
He buys the worthless rubbish which is your wealth,
He pays you the Light that illumines your heart.
He accepts these frozen and lifeless bodies of yours,
And gives you a Kingdom beyond what you dream of,
He takes a few drops of your tears,
And gives you the Divine Fount sweeter than sugar.
He takes your sighs fraught with grief and sadness,
And for each sigh gives rank in heaven as interest.
In return for the sigh-wind that raised tear-clouds,
God gave Abraham the title of "Father of the Faithful."

Thou art hidden from us, though the heavens are filled
With Thy Light, which is brighter than sun and moon!
Thou art hidden, yet revealest our hidden secrets!
Thou art the Source that causes our rivers to flow.
Thou art hidden in Thy essence, but seen by Thy bounties.
Thou art like the water, and we like the millstone.
Thou art like the wind, and we like the dust;
The wind is unseen, but the dust is seen by all.
Thou art the Spring, and we the sweet green garden;
Spring is not seen, though its gifts are seen.
Thou art as the Soul, we as hand and foot;
Soul instructs hand and foot to hold and take.
Thou art as Reason, we like the tongue;
'Tis reason that teaches the tongue to speak.
Thou art as Joy, and we are laughing;
The laughter is the consequence of the joy.
Our every motion every moment testifies,
For it proves the presence of the Everlasting God.....


Jalal ad-Din Rumi (1207-1273 CE)
from The Masnavi, c. 1250 CE
buat Fara
thanx ya...
 
text, text, and text...
07.15.04 (3:45 am)   [edit]
yoi, nyadar. nih blog text semue...
abis, gue males nyimpen arsip gambar online. males ke photobucket...

well, untuk gambar...menyusul kali yah...
pengennya tadi masukin gambar Celica (oh no...too Maksimist! :lol: ), hehehehe...


ok lah...
eng ing eng...

tampak depan




tampak belakang




tampak samping kanan




tampak samping kiri



 
many meeting (kaya soundtracknya LOTR aja...)
07.15.04 (3:16 am)   [edit]
Hari ini gue seneng banget. Ke kampus, dosen nggak ada. Si Peeves ada sih, tapi dia lagi sibuk gitu. Ya udah, ga kuliah. Jam 10-an, gue rapat BEM, ngurusin buku Pengenalan Kampus sama temen2 yang lain. Semoga Allah ngasih kemudahan di proyek ini, amin… Subhanallah, lagi2 gue berkerja dengan orang2 yang luar biasa…:shock: Hari inu gue juga ketiban amanah: jadi Standing Comitee buat opening-nya KMPM. Hmmm, semoga aku bisa menjalankannya, amin…

Gue bisa ketemuan sama sobat2 gue lagi:D : Ila, Intan, walau minus Deasy yang lagi ngurusin pindahan adenya. Gue ketemuan juga sama KMPMers, Neneng, Riza, Umar, Ikra, Sendy, Tony, Cute. Eh, gue juga ngeliat Tris yang hari ini dateng ke kampus, padahal praktis satu semester ini gue nggak ngeliat dia karena dia kudu cuti di Padang gara2 sakit… Hm, subhanallah…

Well, tadi gue, Ila, ama Intan, turun ke bawah barengan Ali. Oh iya, gue ama dia sempet diskusiin masalah konsernya Christina Aguilera beberapa hari lalu di London. OUTSTANDING! (bertepuk...bertepuk...). Sampe2 dia mesti ngebandingin sama konsernya Britney yang sempet dikecam itu. Gara2 kita berisik ngobrol, si Awang yang duduk di deket kita malah gabung gitu. Eh, mulai deh obrolan ngalor ngidul! Mana, si Awang menyatakan bahwa dia lebih suka sama Britney, n’ Alia cuma bisa nyeletuk agak emosional perasaan suka tuh cowo cuma berdasarkan fisik si Brit doang…Entahlah, gue lebih memilih cengengesan aja…

Kita berlima tadi sempet ke Ultra. Nganterin Intan yang mo pinjem ROTK (direstui…direstui…). Dan, lagi2 Elf itu harus pake topi gara2 baru cukur rambut. Oh no… Kenapa dia begitu groginya :shock: ? Kata Intan, tampanganya jadi pias (naon eta ‘pias’? Gue ampe nyari di Linguist, dan artinya kurang lebih ‘pale’ ato pucet). Gara2 ini, Intan langsung nahan ketawa sampe jongkok2… :lol: Yang ada, pas kita keluar dari Ultra, kita ketawa aja. Kocak banget! Lagian, si Yudith itu nggak biasa2nya pake kaos item n’ topi item. Gotcha, kpergok baru cukur rambut lagi!
Biasanya dia pake kaos Ultra yang berwarna biru-kuning plus topi yang berwarna merah itu. Tapi, hari ini dia jadi gothic. Kata Ila “Oooo, dia hendak menakut-nakuti kita rupanya…”. Hehehehe…

Kita juga beli es krim cone itu. Bareng2, transit di teras kosan gue. Di sono kita ngebahas si Yudith, sampe masalah film Fruit Basket yang gue nggak ngerti. Alia kudu naik lagi ke kampus, soalnya kudu rapat Polar. En, kita bertiga ke kamar gue. Di sono pada ngelanjutin baca novel gue, plus ngeliat gambar2 Toyota Celica, yang konon mobilnya Maksim, bow. Intan cuma ngelanjutin baca bab akhir, karena dia pengen ngeliat beberapa extension/tambahan. Kalo Ila mulai ngebaca dari bab 8 sampe akhir. Semuanya: terharu
:oops: :oops: , termasuk gue yang jadi terharu lagi ngebaca ulang bareng2.

Well, tadi gue juga ngasih si Ila poster, pin-up, plus book divider (maaf ya Tan, abisnya cuma buat penggemar fanatiknya Tom Cruise doang, hehehe) The Last Samurai. Dia begitu seneng, alhamdulillah… Aslinya tuh merchandise milik ade gue, hadiah dari Cinemags. Yah, daripada tuh benda nganggur di Jakarta, mending gue kasih ke dia. Ade gue untugnya ngijinin…

Si Lilis baru nyampe kosan. Dia lagi KKN. Kangeeen… Oh iya, gue jadi pengen tau kabar ade gue yang abis SPMB. Trus, ada kabar yang nyenengin banget. Si Alet pake kerudung. Subhanallah…
:oops: Gue kaget betul ngedengernya… Tapi, ya menurut gue dia itu emang hanif… Cuma, mungkin lingkungan aja kali ya yang mesti selalu dia waspadai. Alet pake kerudung (masih ga percaya...takjub, takjub)… Wah, emang… hidayah Allah itu bisa dateng ke siapa aja… Subhanallah… (jadi inget novel :wink: )
 
Muadz Bin Jabal
07.13.04 (10:08 pm)   [edit]
Sewaktu gue didaulat (cieeeh, serasa orang penting…) untuk ngisi buku tahunan KMPM, ada isisan ‘idola’. Nah, gue isi aja… Rasulullah, Muadz bin Jabal, sama Mushab bin Umair…
Kayanya buat anak2 HI, ini kudu jadi idola wajib juga buat mereka (yang ngerasa dirinya muslim! Jangan cuma ngidolain Morgenthau, Baylis (yang bukunya dijadiin buku wajib anak2 karena tebelnya 690 halaman), ato Freud, hehehe!
Ini profil beliau, Muadz bin Jabal, sang diplomat. Duta besar pertama Rasulullah yang dikirim ke Yaman… (Pak Yan, thanks bang-gets atas infonya. Gue jadi ngidolain nih…)
Mu'adz Bin Jabal (1)


Tatkala Rasulullah mengambil bai'at dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya . . . .!

Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal r.a . . . . .

Dan kalau begitu, maka ia adalah seorang tokoh dari kalangan anshar yang ikut bai'at pada perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ashshabiqul Awwalun, golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti dimikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan. Maka demikianlah halnya Mu'adz . . . .
Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya : "Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya : "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?" Kitabullah", ujar Mu'adz. "Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula. "Saya putus dengan Sunnah Rasul", ujuar Mu'adz. "Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?" "Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia". Maka berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah . . . ."

Maka kecintaan Mu'adz terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tidak menutup pintu untuk mengikuti buah fikirannya, dan tidak menjadi penghalang bagi akalnya untuk memahami kebenaran-kebenaran dahsyat yang masih tersembunyi yang menunggu usaha orang yang akan menghadapi dan menyingkapnya.
Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram". Dan cerita-cerita sejarah melukiskan dirinya bagaimana adanya, yakni sebagai otak yang cermat dan jadi penyuluh serta dapat memutuskan persoalan dengan sebaik-baiknya . . . .

Di bawah ini kita muat cerita tentang A'idzullah bin Abdillah yakni ketika pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar, ia masuk mesjid bersama beberapa orang shahabat, katanya:

"Maka duduklah saya pada suatu majlis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih, masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan . . . . hitam manis warna kulitnya, bersih, manis tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya, dan ia tak hendak berbicara kecuali bila diminta . . . . Dantatkala majlis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ujarnya: Saya adalah Mu'adz bin Jabal."

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya:

"Bila para shahabat berbicara sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya . . . .!"

Dan Amirul Mu'minin Umar r.a. sendiri sering meminta pendapat dan buah fikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata: "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"
Dan ternyata Mu'adz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai namanya - di celah-celah riwayat dan sejarah, kita dapati ia sebagi yang selalu menjadi pusat lingkaran. Di mana ia duduk selalulah dilingkungi oleh manusia.

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buaka suara, adalah ia sebagimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara . . . ."
Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini serta penghormatan Kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun . . . .!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak suatupun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing Kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.
Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman, Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka diusulkan Umara kepada khalifah agar kekayaannya itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya secara dosa bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat. Oleh sebab itu usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula . . . . Umar berpaling meninggalkannya.
Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Demi sampai di sana, Umar dirangkul dan dipeluknya, sementara air mata mengalir mendahului perkataannya, seraya berkata:

"Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar dan menyelamatkan saya . . . . !"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepad abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satupun yang akan saya ambil darimu", ujar Abu Bakar. "Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik", kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.
Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang shaleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz. Hanya saja masa itu adlah mas gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.


Mu'adz pindah ke Syria, di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah - amir atau gubernur militer di sana - serta shahabat karib Mu'adz meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mu'minin Umar sebagai penggantinya di Syria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegan jabatan itu, ia dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Umar r.a. berkata:
"Sekiranya saya mengangkat Mu'adz sebagai pengganti, lalu ditanya oleh Allah kenapa saya mengangkatnya, maka akan saya jawab: Saya dengar Nabi-Mu bersabda: Bila ulama menghadap Allah Azza wa Jalla, pastilah Mu'adz akan berada di antara mereka . . . . !"

Mengangkat sebagai pengganti yang dimaksud Umar di sisi ialah penggantinya sebagi khalifah bagi seluruh Kaum Muslimin, bukan kepala sesuatu negeri atau wilayah.
Sebelum menghembuskan nafasnya yang akhir, Umar pernah ditanyai orang: "Bagaimana jika anda tetapkan pengganti anda?" artinya anda pilih sendiri orang yang akan menjadi khalifah itu, lalu kami bai'at dan menyetujuinya . . . .? Maka ujar Umar:

"Seandainya Mu'adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagi khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah Azza wa Jalla dan ditanya tentang pengangkatannya: Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi ummat manusia, maka akan saya jawab: Saya angkat Mu'adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda: Mu'adz bin Jabal adalah pemimpin golongan ulama di hari qiamat."

Pada suatu hari Rasulullah SAW, bersabda: "Hai Mu'adz! Demi Allah saya sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: Ya Allah, bantulah daku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."
Tepat sekali: "Ya Allah, bantulah daku . . . !"
Rasulullah SAW selalu mendesak manusia untuk memahami makna yang agung ini yang maksudnya ialah bahwa tiada daya maupun upaya, dan tiada bantuan maupun pertolongan kecuali dengan pertolongan dan daya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar . . . .

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat . . . . Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka tanyanya:

• Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?
• Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah, ujar Mu'adz
• Setiap kebenaran ada hakikatnya, ujar Nabi pula, maka apakah hakikat keimananmu?
• Ujar Mu'adz: Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi . . . . Dan tiada satu langkah pn yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya . . . . Dan seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya . . . . Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga . . . . Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. Maka sabda Rasulullah SAW : Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan . . . . !

Benar dan tidak salah . . . . Mu'adz telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah, hingga tidak suatu pun yang tampak olehnya hanyalah Dia . . . ! Tepat sekali gambaran yang diberikan Ibnu Mas'ud tentang kepribadiannya. katanya:

"Mu'adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh kepada Agama-Nya. Dan kami menganggap Mu'adz serupa dengan Nabi Ibrahim a.s . . . ."

Mu'adz senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah . . . . Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat, dan katanya:

"Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu! Dan kenalilah kebenaran itu dengan kebenaran pula, karena kebenaran itu mempunyai cahaya . . . .!"

Menurut Mu'adz, ibadat itu hendaklah dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan.
Pada suatu hari salah seorang Muslim meminta kepadanya agar diberi pelajaran.
- Apakah anda sedia mematuhinya bila saya ajarkan? tanya Mu'adz
- Sungguh, saya amat berharap akan mentaati anda! ujar orang itu. Maka kata Mu'adz kepadanya:
"Shaum dan berbukalah . . . .!"
Lakukanlah shalat dan tidurlah . . . .!!!
Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa . . . .
Dan janganlah kamu mati kecuali dalam beragama Islam . . . .
Serta jauhilah do'a dari orang yang teraniaya . . . .

Menurut Mu'adz, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: "Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian mafaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu . . . .!"
Baginya iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa. Berkata Al-Aswad bin Hilal:
"Kami berjalan bersama Mu'adz, maka katanya kepada kami; Marilah kita duduk sebentar meresapi iman . . . .!"

Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorang oleh sikap jiwa dan fikiran yang tiada mau diam dan bergejolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan mengikutinya lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam mengingat-ingat Allah dan kesibukannya dalam menganalisa dan mengoreksi dirinya . . . .
Sekarang tibalah ajalnya, Mu'adz dipanggil menghadap Allah . . . Dan dalam sakarat maut, muncullah dari bawah sadarnya hakikat segala yang bernyawa ini, dan seandainya ia dapat berbicara akan mengalirlah dari lisannya kata-kata yang dapat menyimpulkan urusan dan kehidupannya . . . .

Dan pada saat-saat itu Mu'adz pun mengucapkan perkataan yang menyingkapkan dirinya sebagai seorang Mu'min besar. Sambil matanya menatap ke arah langit, Mu'adz munajat kepada Allah yang Maha Prngasih, katanya:

"Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu . . . .
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan . . . . tetapi hanyalah untuk menutup haus dikala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan . . . .".

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam ghaib masih sempat ia mengatakan:

"Selamat datang wahai maut . . . .
Kekasih tiba di saat diperlukan . . . ."
Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah . . . .
Kita semua kepunyaan Allah . . . .
Dan kepada-Nya kita kembali . . . .


 
kok ga ada?
07.13.04 (9:56 pm)   [edit]
gue coba cari webgue yang inih di yahoo (hehehe iseng :lol: ), tapi ko ga ada ya...
apa yahoo cuma nyantumin blogspotr doang sama tabula? iiih,...
 
surat dari dila u/ maksim
07.13.04 (8:53 pm)   [edit]
Di novel gue, dila ngirim sebuah 'surat' ke maksim. Sebenernya bukan surat, tapi sebuah 'ucapan'. Isinya inspiring gue banget...

“…This day have those who reject Faith
given up all hope of your religion:
yet fear them not but fear Me.
This day have I perfected your religion for you,
completed My favour upon you,
and have chosen for you
Islam as your religion…”
(Al Maidah: 3)
 
SPMB
07.13.04 (8:37 pm)   [edit]
Gue tulis menjelang pergantian menuju hari Rabu, 14 Juli 2004 (jam 23.46)
Hari ini gue online untuk ngerombak beberapa blog gue. Tapi dari sekian blog yang gue punya (di Blogspot sama tBlog), kayanya gue bakal ngelanjutin yang tBlog aja deh…
Walaupun sederhana, tapi fasilitasnya bisa gue lengkapin. Emang sih, yang di Blogspot itu lumayan mewah…. Layoutnya bagus, gue dapet dari Blogskin dan rada komersil, hehehe… Tapi, akhirnya gue pilih ke tBlog, soalnya HTML-nya gak musingin.

Oh iya, tadi Intan dateng ke kosan. Dia baca novel gue, hingga endingnya. Dia terharu…hmmm, baguslah… Asal jangan dibocorin aja dulu ke anak2 yang laen. Tadi gue jebret HP-nya Ila, tapi masih non aktif. Masa sih masih di jalan? Seharusnya kan udah pulang nyampe sini…

Well, beberapa jam lagi, kurang lebih sekitar 9 jam lagi, ade gue bakal ngadepin yang namanya SPMB. SPMB, salah satu hal yang bisa ‘memvonis’ masa depan dia…
Hmmm, tadi gue minta dia nelepon ke kosan gue, sekedar ngecek apakah semuanya udah dia persiapin n’ ngingetin supaya dia berdoa. Gue juga agak2 ragu sih sama amalan yaumil-nya dia… Yah, kewajiban kakanya juga sih buat ngingetin.
Dia dapet tempat ujian di daerah Kelapa Gading.

Kok gue jadi inget sama jaman2nya gue UMPTN dulu yah…
Hal yang paling gue inget pas hari H adalah alas kaca gue yang berukuran sekitar 20x15 cm pecah, tinggal setengahnya gara2 kejepit di pintu mobil bokap. Gue turun dari tuh mobil, pamitan, dan pintu gue tutup BRAKKK… But, oh no… something broken… Payah…
Sebelum itu, kartu ID gue ketuker. Yang ada di tangan gue adalah kartu ID gue yang seharusnya ada di tangan panitia. Dan panitia megang kartu ID yang seharusnya di tangan gue (ngerti ga?). Ketauannya pas gue bandingin sama kartu temen gue “Kok rada beda ya…”. Dan, gara2 itu gue diomelin ama bokap. Tapi, everything was going to be alright. Pas hari pertama UMPTN, gue pergi ke ruang panitia, dan melaporkan insiden itu… Alhamdulillah, masih bisa ikut. Dan alhamdulillah masih bisa lulus…

Btw, tadi pagi gue ‘membatalkan’ diri untuk pergi ke kampus. Masalahnya cuma satu: kaarena bangun siang, dan gue males…

Hmmm, gue kapan yah ngeberesin tugas Gender… Well, gue bingung sama administrasi FISIP. Gimana sih, mo registrasi aja kok susah. Eh, susah sih enggak, cuma prosedurnya jadi diganti aja sama yang biasanya… Sekarang Universitas berhak narik duit dari tabungan BNI kita. Ih, guue pikir sih itu rada2 ‘maling’. Maksudnya, kalo2 duit kita ilang di rekening, mau nggak mau, hehehe, nyalahin ‘pihak tersebut’ dong… Bisa demo lagi nih… 8)


 
Ucapan terimakasih gue
07.13.04 (8:35 pm)   [edit]
The Croatian Rhapsody, sebuah novel tentang perang dan damai...akhirnya bisa selese juga :oops:

Nah, pada kesempatan ini gue pengen banget ngucapin terimakasih. In ‘The Croatian Rhapsody’, Di would like to thank to these followings…

 Allah Subhanahu Wa Ta’ala for all Your Love and Merciness… My mom and dad, for your first lesson: LOVE, HATE, & LIE. My lil’ brother Nara (I love you) & Danur! May Allah tie our hearts… amin…
 My partners in crime: Baroness Ila Nasution (for the courage, the madness, the imaginations, the dreams, and your ideas), Deasy (makasih atas gagasan risetnya!), Intan (Patient! Patient!)
 To all the KMPMers! Thanks a lot for the support n' times we’ve shared!…I miss you all. Arif, Akim, Rufi, Yaumil, Rahmat – excellent thoughts! Riza ANi & Riza AN, you’re outstanding! Jo, Ucip, Tience, Yuneee – heart will never separate. Umar (nice philosophical repulsive thoughts), Neneng, & Cica (kapan kita nyanyi lagi?!). You’re talented!
 Anak2 BEM FISIP UNPAD 2004-2005! Excellent! Luar biasa! Cerdas! Chayo chayo!
 Mr. Asgar (stop pushing me !), Mr. Yan, Mr. T. May, Mr. Obi (nice jokes&cars!), Mr. Wahyu, Mr. HasDik, dan semua dosen HI UNPAD yang udah ngajarin tentang perang, perang, dan perang!
 Baya (trims banget atas semangatnya!)
 My senior Rudi who inspires me to WRITE book!
 All the WFers, nice moments with you! To Lilis, thank for the advices! Lufa, hope someday u’ll find your real prince! Eji-thanks for trusting me. ParDu, especially Ni (makasih udah ngebikinin teh anget), Shanty, Ayi (si anak kecil), & T’Uwi! Wow, you’re all great! T’ Hikmah, thank u so much too!
 Yuki (yang semangat sama Balkan), Yuher, Putri, & Angger! Ganiz (girl don’t cry), Sari, Rya, Dwi, Saras, Dian. Keep on rocking, Galz!
 Zahida – you never get bored to hear my stories, right?! Santi, and Ikra, luv u!
 Ultra Disc…(oooh, scandal… Kapok)& Le Cinema
 Biru Net, Jazz Net& Character, tempat on line paling okeh!
 El Hanna & Mentari bookstore, Kampung Lebah & Kedai Steak (tempat nyari inspirasi sambil santai)
 Maksim Mrvica, the piano player. Hopefully you’d read this novel  (to know that Tonci Huljic’s Croatian Rhapsody really influences me!)
 HIers UNPAD 2K1- all are unforgettable!
 
menulis versi gue
07.13.04 (8:31 pm)   [edit]
Proses Kreatif Menulis, versi Dita, hehehe
Gue udah baca buku Proses Kreatif Penulis Hebat yang diterbitin DAR! Mizan. Cool banget, inspiring! Tuh buku adalah curhatan bagi para penulis masyhur Indonesia, kaya Gola Gong, Boim Lebon, Asma Nadia, Afifah Afra, Zaenal Radar, dll. Wah, bener, ternyata proses nulis masing2 penulis itu tuh beragam, dan nggak sesulit yang kita bayangin asal bisa ngakalin!

Well, OK kalo gue sendiri sebagai penulis (ceileeee…), menulis merupakan sebuah KEAJAIBAN (jadi inget Tony “CINTA adalah sebuah KATA KERJA”). Yah, maksudnya apa yah, gue juga bingung. Gini, gini, ternyata kalo dipikir-pikir, lewat tangan kita ini, kita bisa menciptakan sebuah ‘dunia dan kehidupan’, entah cerpen ato fiksi, di mana pikiran kita hidup dan berbicara. Kita ‘menciptakan’ serangkaian karakter yang lantas menjadi hidup dengan segala atribut dan pembahasaannya. Trus, kita menciptakan setting, alur, waktu, serta segala macem hal (korelasi dan kausalitas. Lantas keajaiban itu lantas menjadi sebuah ‘kenyataan’, ketika orang lain membaca sehingga ia terlarut dalam cerita. Kita telah menciptakan sebuah ‘kehidupan’.
Kalo gue sendiri, untuk memulai sebuah tulisan, biasanya fiksi dan berbentuk novel (soalnya kalo cerpen gue kurang bisa puas karena gue suka untuk ngembangin cerita) gue berangkat dari sebuah fenomena. Fenomena yang gue tangkep itu lantas gue bahasakan sendiri menurut versi dan kacamata gue pada settingan yang berbeda, dan bahkan rada2 ‘nyeleneh’.

Untuk novel gue (yang pada batal, dan bahkan gue batalin. Cuma sekedar kumpulan ‘cerita’ yang lebih cenderung cocok ke skenario film kayanya. Tapi, terkecuali The Croatian Rhapsody, my masterpiece, hehehe), beberapa hal yang beranjak dari apa yang gue temuin di lapangan telah menjadi latarnya:
1. Tirai Kertas 1&2: gimana ‘skandal’ mahasiswa dengan dosen. Ini berangkat dari seorang dosen gue yang jujur gue kagumi (sapa ya…)
2. Far From China: bahwa orang ‘tercela’ nggak selamanya ‘terhina’, hidayahpun dapat turun pada mereka. Ide berasal dari ketika gue mencari tahu bahwa seorang aktor yang menurut gue lumayan berbakat itu ternyata adalah mantan bintang porno bo!
3. Bring My Love: Jarak bukanlah sebuah kendala bagi manusia untuk melanjutkan silaturahim yang terputus, karena Allah adalah Maha Pengikat Hati. Ide berasal dari perasaan yang timbul dari diri gue waktu itu, bahwa gue pengen banget pergi ke NY.
4. The Croatian Rhapsody: Allah menciptakan manusia beragam ras dan bangsa untuk saling mengenal, dan kau pun harus membantu mereka untuk bertahan hidup sementara engkau tengah bertahan hidup pula.


(Vlaska, Zagreb; hancur lebur karena perang... 'yes' to survive)


Ide dateng dari kekaguman gw atas Maksim Mrvica dengan segala talenta bermain pianonya yang begitu menakjubkan, padahal asli Kroasia, negara perang.



Well, itu sedikit nostalgia…
Kembali ke proses. Hm, setelah menangkap ide yang seperti tadi gue bilang berasal dari apa yang gue alami&rasakan dari berbagai fenomena, gue biasanya menyusun plan, nih ide mau gue bikin novel dengan sebuah arah/tujuan. Dasar pijakan tetep: untuk melahirkan karya Islami sehingga pembaca tergugah mengamalkannya.
Abis itu, gue akan menetapkan ruang lingkup: permasalahan pokok&sekundernya, setting, pelaku dan karakternya, tipe novel (apakah roman, komdi, ato misteri, hiiiy), n’ dsb.

Nah, kalo itu udah beres, gue bisa mulai ngetik. Nyalain PC, duduk anteng, dan berimajinasi. Biarkan semuanya ngalir, dengan beberapa prinsip yang gue pegang: cerita nggak monoton/boring dan bisa masuk di akal.
Untuk materi, gue biasa riset jalan. Jadi, sembari nulis, gue juga ngumpulin bahan. Biasanya bakal ketauan apa aja bahan yang kita butuhin pas kita udah nulis loh. Sedangkan, gue juga biasanya bakal nulis/nge-list di kertas khusus tentang apa aja yang kiranya masih kurang untuk tulisan itu ketika gue nggak sanggup ngerjain semuanya. Istilahnya, gue punya daftar PR juga. Dan PR itu akan gue tindak lanjuti pas kesempatan lain ato pas editing.

Gue juga biasa menarget. Misalnya, gue nulis butuh waktu berapa bulan, n’ editing berapa hari/minggu. Gue juga ngepisahin antara writing sama editing, tapi bukan berarti ga boleh ngedit pas cerita belom kelar. Ngedit tetep, tapi gue lebih suka mengeditnya secara seksama pas penulisan udah selese. Ngebaca karya dengan kacamata orang lain juga urgen. Pertimbangin juga gimana respon pembaca ntar dengan melihat karya itu dari sudut pandang yang lain. Elo ga pengen dong punya tulisan yang menarik buat elo, tapi ‘rubbish’ buat orang laen…

Bagi gue menulis itu bener2 ngelibatin perasaan elo. Gue inget, gimana harunya gue ketika gue nulis adegan di TCR, pas Goran yang akhirnya meninggal di pelukan anak kandungnya, padahal seumur hidup mereka berdua baru dipertemukan saat itu juga (hiks…). Inget juga kalo gue juga ikut takjub, pas adegan BML, gimana Paul & Dita mematung terkejut pas mereka bersua di depan petshop Breeder di NY, padahal mereka terakhir ketemu 7 tahun yang lalu. Trus, juga gimana jengkelnya gue pas ternyata anak2 DKM sebagian nganggep Simon dengan ‘sebelah mata’ cuma karena dia adalah aktor Hollywood yang pernah main di vidio porno di novel gue, FFC.
Saking larutnya gue ke dalam cerita, sampe2 moody juga ngerjain pekerjaan harian, kaya makan, tidur, nyuci, ngerjain tugas kuliah, ngurusin BEM, dsb. Jadi, tidak jarang tulisan pun membuat kita terpengaruh. Dahsyat… JK Rowling pun tersedu2 tanpa alasan sampe suaminya yang kedua begitu bertanya-tanya. Dan ternyata alasannya begitu ‘sederhana’, dia merasa ‘bersalah’ ketika harus membunuh tokoh Sirius Black di HP 5!

So, gue setuju sama Gola Gong: menulis butuh proses. Ga langsung jadi. En, ga lupa juga mo gue tambahin, butuh sesuatu yang namanya kesabaran. Kaya kata Gollum di LOTR: ROTK: “Patient! Patient!”, hehehe…
So, let’s write!

PS: Buat yang sempet nonton Maksim manggung di Tennis Indoor, 27 April 2004, you can share your stories with me… Because I am a big fan of him, hehehe…

 
Menulis Itu..., by Gola Gong
07.13.04 (8:28 pm)   [edit]
MENJADI PENULIS HARUS SABAR
DAN TIDAK LANGSUNG JADI
Oleh Gola Gong

Pada workshop yagn diadakan flp jkt kemarin (14-15 juli), lumayan sukses. interaktif yg saya terapkan bikin hiduplah, walaupun belum "hot" banget. waktunya terbatas, sih...
ada yang perlu saya garis bawahi di sini.

1. STRATEGI-EJAAN
untuk jadi penulis itu selain harus punya strategi, juga harus menguasai ejaan yagn disempurnakan (saya juga belum menguasai banget, terus belajar). dan jangan lupa, pandai mengemukakan pendapat. artinya, otak kita terus berpikir untuk memakai/menyiasati penggunaan bahasa. menulis kan medianya bahasa. jadi, kalau kita mahir berbahasa, insya Allah, kita mahir pula menulis...

strategi itu apa? seperti saya singgung tempo hari, rencakan dari sekarang, berapa tahun ke depan kita targetkan untuk bisa jadi penulis. kalau terburu-buru, nanti bubrah. buang-buang energi, tenaga, dan pikiran. nggak percaya? saya pernah punya temen sewaktu sma, yagn merasa bahwa menulis itu sangat mudah. nggak perlu mikir. saat itu saya udah mulai nulis puisi. malah itu awalnya. dan dimuat di hai. honornya 3500 perak. habis buat nraktir beli bakso. nah, temen saya itu "ri". sesumbar bahwa, ah..., puisi.. cemen! besoknya, dia bawa berlembar-lembar kertas yang isinya puisi dia. disebarain di kelas. masya Allah.... dalam semalam saja, belasan puisi lahir... pas saya baca, puisi apa coba? saya nggak tega ngomongnya sama temen saya itu. tapi, sajaknya seperti ini:

KASIHKU.....???!!

kasihku!!! aku lihat bulan di matamu......!!!!!!
aku rindu!!! ombak berdebur!!!
kau di sana??????? aku merana!!!

(two wa ga pat....
man treman treman...., hehehe...
ini theme song-nya.... dari p-project)

kira-kira seperti itu. penggunaan tanda baca yg diobral habis. saya hanya tersenyum. kirim aja ke hai. begitulah, sekaragn temen saya itu kerja di pabrik dan saya alhamdulillah, mdenjadi penulis seperti yagn saya idamkan sejak dulu...

pada masa sekarang pun, banyak penulis pemula yang seperti itu. ngobral tanda baca, ngobral kata, ngalor-ngidul nggak ada juntrungnya, karena mereka kepingin cepet dapat predikat penulis atau pengarang atau penyair. ingat, ketika kita menulis dengan tujuan tulisan kita dimuat dan cap penulis disematkan di pundak kita, saat itulah kita akan terbebani terus... ujung-ujungnya... bingung mau nulis apa! frustasi juga akhirnya. jadi enek ngelihat komputer dan nyaci-maki, bahwa media massa pilih kasih karena kita bukan penulis ternama.

jadi, menulis sajalah. terus menuis. kasihkan ke temen,ibu, pacar, suami, isrti, saudara. mintai pendapat dari mereka. kalo masih lemah, evaluasi lagi. bandingkan dengan cerpen yg udah dimuat media massa. kira-kira kalau udah standar, ya kirimkan. ditolak, coba lagi. jangan semalam ngetik, jadi, besoknya langsung dikirim. kasihan redaktur cerpen. seperti helvy pernah tulis di galeri annida, kadang dia harus ngedit, nge-rewrite,bahkan malah nggak memuatnya. begitulah penulis pemula. nafsu pingin jadi penulis gede, tapi strateginya belum punya. tak apa. dgn tuker pendapat begini, kita saling belajar.

2. PANDAI BICARA
di workshop kemarin, ketika saya suruh para peserta untuk maju ke depan; menceritakan apa saja yang ada di kepalanya, pegngunaan bahasa mereka juga masih lemah. tidak apa. belajarlah terus untuk bicara di depan umum. inget, jadi penulis itu jangan cuma bisa nulis doang. kita juga harus pandai bicara (positif) di depan umum. berani bicara (tapi jangan malu-maluin). merangkai bahasa lewat tulisan, sama bagusnya juga ketika kita bicara di depan umum. caranya? saya suka sekali melihat para aktor-aktris main film/sinetron. atau para orator bicara di podium. di kamar, saya bicara sendiri di depan cermin. kalau perlu, direkam di tip. puter lagi, dengerin lagi... begitulah proses saya sebelum jadi menulis... tidak terasa, itu makin membuat kita kaya dan sedikut lancar menulis atau bicara...


IDE
Beberapa peserta juga ada yang repot nyelametin ide. kalau datang pas di perjalanan, gimana? makanya, bawa terus "buku harian". begitu ada waktu, langsung tulis. kalau punya laptop oke banget (saya juga belum punya. asy syamiil mau barter sama naskah? hehehe..
mizan, tertarik? Lho, kok promosi?). praktis. dulu, waktu saya masih suka ngelayak, "buku harian" saya segunung. saya bakar habis sewaktu nikah. soalnya, waktu itu masih kos di kb. jeruk. rumah petak. menuh-menuhin kamar. tapi, setelah sekarang punya rumah, nyesel juga dibakar. nggak sabaran, sih. nah, "buku harian" yg segunung itu dipake sebagai proses kreatif menulis saya. kadang di perjalan saya kirim ke rumah. dibaca sama emak, bapak.

inget, kamu jangan salah paham. buku harian itu bukan perjalanan pribadi hidup saya. tapi, lebih pada hasil pengamatan panca indra saya. karena saya wartawan waktu itu, jadi metode interview, observasi, chek and recheck, investigasi saya terapkan. misalnya, saya tersenyum melihat anak kecil penyemir sepatu di stasiun. biarkan dia nyemir sepatu saya. saya ajak dia ngobrol. nanya ini-itu, berapa modalnya, ibunya siapa, bla,bla.... terus, langsung tulis di "buku harian".... begitulah....

wah, saya lagi ada waktu di kantor, nih...
segini dulu, deh...
biasa..., ada yg mesti dikerjain... rutinitas kantor...
see you...

ps. kalo ada penulis pemula yang mau nanya, silahkan...
tapi, kaliber htr, asma, ali, maimun, antariksa, jannah, hehehe..., janganlah...
kalian justru harus rajin nulis di sini... ng-evaluasi setiap usai workshop...
ini buat pemula, lho....
jadi, progress gitu.... saya khawatir, kita nanti ngasih materi yang berulang-ulang...
tapi, nggak apa-apa kali, ya?

oh ya, htr ngantor di flp pusat aja....
ngedit naskah yg mau dibukuin....
gimana kalo kita minta sedikit ruangan di istana negara
siapa tahu kita diangkat jadi jubir presiden, hehehe....


 
novel & yang lain
07.13.04 (8:06 pm)   [edit]
Senin, 12 Juli jam 23.50 bow
Hmmm (gue nggak mau ngebahas templates, templates, dan templates lagi!), ini gue ketik di PC dulu, abisnya rada wasting time kalo gue ngetik di warnet (di ‘jaringan perang’) kaya kata Pak Oby- duh, makasih banget atas joke2nya walopun garing…
Sekarang gue lagi dengen Michael Bubble, ‘You’ll Never Find Another Love Like Mine’, aduuuuh, sway banget…

Kemaren novel The Croatian Rhapsody akhirnya selese juga… Well, selese sekitar jam dua-an pagi. Abis itu gue langsung sujud syukur… Oh, begitu leganya . Berbangga (ingat Baroness Ila Nasution, nama apa-apaan itu!)

Novel abis 260-an halaman. Itu belom edit, dan belom termasuk juga credit tittle (plus komentar. Komentar para sastrawan? Hehehe, amin…). Lagian, nanti kalo diedit paling juga bakal extend. Dan itu yang gue pengenin: extend. Hehehe, dasar, cuma buat nebelin doang! Gue masih ragu apa musti gue komersilin-via Lomba FLP? Soalnya Deasy aja yang notabene sering ngurusin masalah tulis-menulis aja ragu sama ‘Master of Condotierre’-nya: layak diperlombakan atau enggak. Kalo dia sih meragukan pemakaian bahasa. Menurut dia, bahasa yang dipake di rancangannya terlalu…aduh, garing. Dangdut. Itu kata dia loh, soalnya menurut gue sih di dalam seni, seperti sastra, semuanya itu nggak ada yang absolut.

Nah, kalo gue sendiri nggak bermaksud memperlombakan novel TCR karena apa yah, hehehe… Nah loh, kok kalo gue pikir-pikir cuma karena nama pemainnya Maksim Milosevic/Eterovic aja (mentang2 Maksim! Huuu! Asal jangan Maksim Mrvica aja, bisa dituntut gue. “Iya Dit, biarin dituntut. Kalo kamu dituntut, aku akan bersedia mendampingimu”, dasar Ila! Bilang aja dia pengen ketemu Maksim! Hehehe, nggak juga. Gue masih merasa kurang dalam materi, terutama riset demografis ke propinsi2 di Kroasia. Plus, pendalaman bahasa setempat. Nggak cuma daily phrase-nya doang…
Hvala lijepo…
Dobro jutro…
Zao mi je…



(gambar resimen kroasia yang lagi bergerak ke Dubica)
well, war only brings tears...

Sekarang lai denger Bee Gees, ‘How Deep Is Your Love…’. Hmmm, bener banget, nih lagu enak… Waaaah, jadi mo melamun mun mun…

Konsentrasi!
Well, besok gue ke kampus nggak yah. Gue kangen banget sama FISIP UNPAD (dan tiga tahun ini gue berusaha mensyukuri nikmat karena Allah telah mengabulkan doa gue untuk kuliah di HI…). Pokoknya, gue pengen ke kampus besoook…
Besok kan ada kuliahnya Hasan Sidik (ato Sidic? Hehehe, Kroasia… Thank you…). Besok bakal ada si Has Dik itu sama Sumpena. Gue bentrok juga sama Positivis-nya Widya…. Hmmm, enaknya Positivis dibolosin aja kali yah, soalnya dia juga jarang masuk, kikikik….

Malem ini Ila masih di kereta dari Tulungagung ke Nangor. Intan udah ada di kosan. Deasy juga apalagi. Kangen, mo ketemuan. Foto bareng seru kali yaaa… Hmmm, miss the moments…

Tugas Gender
Exciting banget. Review film yang ada kaitannya sama gender, selain review buku/artikel sama current event. Ya, apa lacur? Gue review aja LOTR: TTT! Tops! Sebenernya gue termotivasi banget ade gue si Nara yang maniak LOTR itu. Yah, penyemangat lah… Gue ngerjainnya ngebut banget, mana pake copy paste segala lagi, payah…semoga nggak ketauan, hihihi… (Bu Yunita baca nih blog gak ya…).

Gue masih kangen rumaaah ni…
Pengen pulang lagi (tapi di rumah juga ngaggur banget. Yang ada juga JJS ke mall sama Nara). Nomong2 tadi malem gue mimpi makan Pizza Hut sama si Pipin loh, dia yang traktir, hehehe.

 
template
07.12.04 (5:26 am)   [edit]
gue masih bingung nyari template.
antbody here knows where i can get cool templates
i would like to have a dark one (with black background or a dark red one)
 
newbie!
07.12.04 (4:45 am)   [edit]
nyoba template baru neeeh...
 
Moved to http://tazkia.tblog.com